Empat tahun yang lalu, sejak aku dan kamu tak pernah saling bertemu aku mulai belajar melepaskanmu secara perlahan-lahan tuk pelarian semata. hari demi hari yang kujalani semakin berat tanpa hadirmu disisiku, itu semua tak membuatku patah semangat tuk belajar walau hari-hariku semakin sepi. aku tak pernah menginginkan tuk mengingat masa lalu yang udah 3 tahun kujalani meskpuni bayang-bayang semumu menghampiri disetiap mimpi tidurku.
Salahku memang mengartikan tindakanmu sebagai cinta. Tapi, aku juga tak salah bukan jika berharap bahwa kamu juga punya perasaan yang sama. kamu sudah menjadi bagian hari-hariku, aku percaya kau tak mungkin membuatku jatuh lebih dalam lagi dan aku tak akan jadikan kamu sebagai pelarian semata dari sahabat dekatmu. aku percaya kamulah kebahagiaan baru yang akan memberiku warna di setiap hari-hariku. Aku sangat mempercayaimu, sangat mempercayaimu! Dan itulah, hal paling bodoh yang harus kusesali.
Ternyata, kekuatanku terjawab sudah, kamu menjahuiku tanpa alasan yang jelas.
Kamu pergi tanpa ucapan sepatah kata, tapi pantaskah aku marah ? kamu tak pernah jadi siapa-siapa bagiku, bukan tujuan namanya kalau kau ingin tahu, aku berusaha merancang berbagai mimpi indah yang ingin kuwujudkan bersamamu. Mungkin, suatu saat nanti, jika Tuhan ijinkan, aku percaya kita pasti bisa saling membahagiakan.
Aku tak punya hak tuk memintamu kembali, masih adakah yang harus kupaksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan ? Tidak munafik, aku merasa kehilangan. Dulu, aku terbiasa dengan candaanmu, namun tiba-tiba hilang begitu saja, bagai awan hitam yang hilang ditelan gelapnya malam. Sesungguhnya, ini juga salahku, yang bertahan dalam diam meskipun aku punya perasaan yang lebih dalam. ini bukan salahmu, juga bukan kesalahannya. Tapi, tak mungkin matamu terlalu buta dan hatimu terlalu beku untuk tahu bahwa aku mencintaimu.
0 komentar:
Posting Komentar